Thursday, March 25, 2010

SIKSAAN DI ALAM KUBUR

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Albaraa' bin Aazib r.a. berkata: "Kami bersama Nabi Muhammad s.a.w keluar menghantar jenazah seorang sahabat Anshar, maka ketika sampai kekubur dan belum dimasukkan dalam lahad, Nabi Muhammad s.a.w duduk dan kami duduk disekitarnya diam menundukkan kepala bagaikan ada burung diatas kepala kami, sedang Nabi Muhammad s.a.w mengorek-ngorek dengan dahan yang ada ditangannya, kemudian ia mengangkat kepala sambil bersabda: "Berlindunglah kamu kepada Allah dari siksaan kubur.". Nabi Muhammad s.a.w mengulangi sebanyak 3 kali." Lalu Nabi Muhammad s.a.w bersabda:

"Sesungguhnya seorang mukmin jika akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat (akan mati), turun padanya malaikat yang putih-putih wajahnya bagaikan matahari, membawa kafan dari syurga, maka duduk didepannya sejauh pandangan mata mengelilinginya, kemudian datang malaikulmaut dan duduk didekat kepalanya dan memanggil: "Wahai roh yang tenang baik, keluarlah menuju pengampunan Allah dan ridhaNya."

Nabi Muhammad s.a.w bersabda lagi: "Maka keluarlah rohnya mengalir bagaikan titisan dari mulut kendi tempat air, maka langsung diterima dan langsung dimasukkan dalam kafan dan dibawa keluar semerbak harum bagaikan kasturi yang terharum diatasbumi, lalu dibawa naik, maka tidak melalui rombongan malaikat melainkan ditanya: "Roh siapakah yang harum ini?" Dijawab: "Roh fulan bin fulan sehingga sampai kelangit, dan disana dibukakan pintu langit dan disambut oleh penduduknya dan pada tiap-tiap langit dihantar oleh Malaikat Muqarrbun, dibawa naik kelangit yang atas hingga sampai kelangit ketujuh, maka Allah berfirman: "Catatlah suratnya di illiyyin. Kemudian dikembalikan ia kebumi, sebab daripadanya Kami jadikan, dan didalamnya Aku kembalikan dan daripadanya pula akan Aku keluarkan pada saatnya." Maka kembalilah roh kejasad dalam kubur, kemudian datang kepadanya dua Malaikat untuk bertanya: "Siapa Tuhanmu?" Maka dijawab: Allah Tuhanku. Lalu ditanya: "Apakah agamamu?" Maka dijawab: "Agamaku Islam" Ditanya lagi: "Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang diutuskan ditengah-tengah kamu?" Dijawab: "Dia utusan Allah". Lalu ditanya: "Bagaimanakah kamu mengetahui itu?" Maka dijawab: "Saya membaca kitab Allah lalu percaya dan membenarkannya" Maka terdengar suara: "Benar hambaku, maka berikan padanya hamparan dari syurga serta pakaian syurga dan bukakan untuknya pintu yang menuju kesyurga, supaya ia mendapat bau syurga dan hawa syurga, lalu luaskan kuburnya sepanjang pandangan mata." Kemudian datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya dan harum baunya sambil berkata: "Terimalah khabar gembira, ini saat yang telah dijanjikan Allah kepadamu." Lalu bertanya: "Siapakah kau?" Jawabnya: "Saya amalmu yang baik." Lalu ia berkata: Ya Tuhan, segerakan hari kiamat supaya segera saya bertemu dengan keluargaku dan kawan-kawanku."

Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Adapun hamba yang kafir, jika akan meninggal dunia dan menghadapi akihirat, maka turun kepadanya Malaikat dari langit yang hitam mukanya dengan pakaian hitam, lalu duduk dimukanya sepanjang pandangan mata, kemudian datang Malaikulmaut dan duduk disamping kepalanya lalu berkata: "Hai roh yang jahat, keluarlah menuju murka Allah." Maka tersebar disemua anggota badannya, maka dicabut rohnya bagaikan mencabut besi dari bulu yang basah, maka terputus semua urat dan ototnya, lalu diterima akan dimasukkan dalam kain hitam, dan dibawa dengan bau yang sangat busuk bagaikan bangkai, dan dibawa naik, maka tidak melalui malaikat melainkan ditanya: "Roh siapakah yang jahat dan busuk itu?" Dijawab: "Roh fulan bin fulan." dengan sebutan yang amat jelek sehingga sampai dilangit dunia, maka minta dibuka, tetapi tidak dibuka untuknya. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w membaca ayat: "Laa tufattahu lahum abwabus samaa'i, wala yad khuluunal jannata hatta yalijal jamalu fisamil khiyaath." (Yang Bermaksud) "Tidak dibukakan bagi mereka itu pintu-pintu langit dan tidak dapat masuk syurga sehingga unta dapat masuk dalam lubang jarum."

Kemudian diperintahkan: "Tulislah orang itu dalam sijjin." Kemudian dilemparkan rohnya itu bagitu sahaja sebagaimana ayat "Waman yusyrik billahi fakaan nama khorro minassama'i fatakh thofuhuth thairu au tahwi bihirrihu fimakaanin sahiiq." (Yang bermaksud) "Dan siapa mempersekutukan Allah, maka bagaikan jatuh dari langit lalu disambar helang atau dilemparkan oleh angin kedalam jurang yang curam."

Kemudian dikembalikan roh itu kedalam jasad didlam kubur, lalu didatangi oleh dua Malaikat yang mendudukkannya lalu bertanya: ""Siapa Tuhanmu?" Maka dijawab: "Saya tidak tahu". Lalu ditanya: "Apakah agamamu?" Maka dijawab: "Saya tidak tahu" Ditanya lagi: "Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang diutuskan ditengah-tengah kamu?" Dijawab: "Saya tidak tahu". Lalu ditanya: "Bagaimanakah kamu mengetahui itu?" Maka dijawab: "Saya tidak tahu" Maka terdengar suara seruan dari langit: "Dusta hambaku, hamparkan untuknya dari neraka dan bukakan baginya pintu neraka, maka terasa olehnya panas hawa neraka, dan disempitkan kuburnya sehingga terhimpit dan rosak tulang-tulang rusuknya, kemudian datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya dan busuk baunya sambil berkata: "Sambutlah hari yang sangat jelek bagimu, inilah saat yang telah diperingatkan oleh Allah kepadamu." Lalu ia bertanya: "Siapakah kau?" Jawabnya: "Aku amalmu yang jelek." Lalu ia berkata: "Ya tuhan, jangan percepatkan kiamat, ya Tuhan jangan percepatkan kiamat."

Abul-Laits dengan sanadnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Seorang mukmin jika sakaratulmaut didatangi oleh Malaikat dengan membawa sutera yang berisi masik (kasturi) dan tangkai-tangkai bunga, lalu dicabut rohnya bagaikan mengambil rambut didalam adunan sambil dipanggil: "Ya ayyatuhannafsul muth ma'innatur ji'i ila robbiki rodhiyatan mardhiyah." (Yang bermaksud) "Hai roh yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan perasaan rela dan diridhoi. Kembalilah dengan rahmat dan keridhoan Allah." Maka jika telah keluar rohnya langsung ditaruh diatas misik dan bunga-bunga itu lalu dilipat dengan sutera dan dibawa keilliyyin. Adapun orang kafir jika sakaratulmaut didatangi oelh Malaikat yang membawa kain bulu yang didalamnya ada api, maka dicabut rohnya dengan kekerasan sambil dikatakan kepadanya: "Hai roh yang jahat keluarlah menuju murka Tuhammu ketempat yang rendah hina dan siksaNya, maka bila telah keluar rohnya itu, diletakkan diatas api dan bersuara seperti sesuatu yang mendidih kemudian dilipat dan dibawa kesijjin."

Alfaqih Abu Ja'far meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar r.a. berkata: "Seorang mukmin jika diletakkan dikubur maka diperluaskan kuburnya itu hingga 70 hasta dan ditaburkan padanya bunga-bunga dan dihamparkan sutera, dan bila ia hafal sedikit dari al-quran sukup untuk penerangannya jika tidak maka Allah s.w.t. memberikan kepadanya nur cahaya penerangan yang menyerupai penerangan matahari, dan didalam kubur bagaikan pengantin baru, jika tidur maka tidak ada yang berani membangunkan kecuali kekasihnya sendiri, maka ia bangun dari tidur itu bagaikan masih kurang masa tidurnya dan belum puas. Adapun orang kafir maka akan dipersempit kuburnya sehingga menghancurkan tulang rusuknya dan masuk kedalam perutnya lalu dikirimkan kepadanya ular segemuk leher unta, maka makan dagingnya sehingga habis dan sisa tulang semata-mata, lalu dikirim kepadanya Malaikat yang akan menyiksa iaitu yang buta tuli dan bisu dengan membawa puntung dari besi yang langsung dipukulkannya, sedang Malaikat itu tidak mendengar suara jeritannya dan tidak melihat keadaannya supaya tidak dikasihaninya, selain itu lalu dihidangkan siksa neraka itu tiap pagi dan petang."

Abu-Laits berkata: "Siapa yang ingin selamat dari siksaan kubur maka harus menlazimi empat dan meninggalkan empat iaitu:

  • Menjaga sembahyang lima waktu

  • Banyak bersedekah

  • Banyak membaca al-quran

  • Memperbanyak bertasbih (membaca: Subhanallah walhamdulillah wal'aa ilaha illallah wallahu akbar, walahaula wala quwata illa billah)

Semua yang empat ini dapat menerangi kubur dan meluaskannya. Adapun empat yang harus ditinggalkan ialah:

  • Dusta

  • Kianat

  • Adu-adu

  • Menjaga kencing, sebab Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda: "Bersih-bersihlah kamu daripada kencing, sebab umumnya siksa kubur itu kerana kencing. (Yakni hendaklah dicuci kemaluan sebersih-bersihnya.)

Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Innallahha ta'ala kariha lakum arba'a: Al'abatsu fishsholaati, wallagh wu filqira'ati, warrafatsu fisshiyami, wadhdhahiku indal maqaabiri. (Yang bermaksud) Sesungguhnya Allah tidak suka padamu empat, main-main dalam sembahyang dan lahgu (tidak hirau), dalam bacaan quran dan berkata keji waktu puasa dan tertawa didalam kubur."

Muhammad bin Assammaak ketika melihat kubur berkata: "Kamu jangan tertipu kerana tenangnya dan diamnya kubur-kubur ini, maka alangkah banyaknya orang yang sudah bingung didalamnya, dan jangan tertipu kerana ratanya kubur ini, maka alangkah jauh berbeza antara yang satu pada yang lain didalamnya. Maka seharusnya orang yang berakal memperbanyak ingat pada kubur sebelum masuk kedalamnya."

Sufyan Atstsauri berkata: "Siapa yang sering (banyak) memperingati kubur, maka akan mendapatkannya kebun dari kebun-kebun syurga, dan siapa yang melupakannya maka akan mendapatkannya jurang dari jurang-jurang api neraka."

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata dalam khutbahnya: "Hai hamba Allah, berhati-hatilah kamu dari maut yang tidak dapat dihindari, jika kamu berada ditempat, ia datang mengambil kamu, dan bila kamu lari pasti akan terpegang juga, maut terikat selalu diubun-ubunmu, maka carilah jalan selamat, carilah jalan selamat dan segera-segera, sebab dibelakangmu ada yang mengejar kamu yaitu kubur, ingatlah bahawa kubur itu adakalanya kebun dari kebun-kebun syurga atau jurang dari jurang-jurang neraka dan kubur itu tiap-tiap hari berkata-kata: Akulah rumah yang gelap, akulah tempat sendirian, akulah rumah ulat-ulat."

Ingatlah sesudah itu ada hari (saat) yang lebih ngeri, hari dimana anak kecil segera beruban dan orang tua bagaikan orang mabuk, bahkan ibu yang meneteki lupa terhadap bayinya dan wanita yang bunting menggugurkan kandungannya dan kau akan melihat orang-orang bagaikan orang mabuk tetapi tidak mabuk khamar, hanya siksa Allah s.w.t. yang sangat ngeri dan dahsyat.

Ingatlah bahawa sesudah itu ada api neraka yang sangat panas dan suram dalam, perhiasannya besi dan sirnya darah bercampur nanah, tidak ada rahmat Allah s.w.t. disana. Maka kaum muslimin yang menangis. lalu ia berkata: "Dan disamping itu ada syurga yang luasnya selebar langit dan bumi, tersedia untuk orang-orang yang takwa. Semoga Allah s.w.t. melindungi kami dari siksa yang pedih dan menempatkan kami dalam darunna'iem (Syurga yang serba kenikmatan).

Usaid bin Abdirrahman berkata: "Saya telah mendapat keterangan bahawa seorang mukmin jika mati dan diangkat, ia berkata: "Segerakan aku.", dan bila telah dimasukkan dalam lahad (kubur), bumi berkata kepadanya: "Aku kasih padamu ketika diatas punggungku, dan kini lebih sayang kepadamu." Dan bila orang kafir mati lalu diangkat mayatnya, ia berkata: "Kembalikan aku." dan bila diletakkan didalam lahadnya, bumi berkata: "Aku sangat benci kepadamu ketika kau diatas punggungku, dan kini aku lebih benci lagi kepadamu."

Usman bin Affan r.a. ketika berhenti diatas kubur, ia menangis, maka ditegur: "Engkau jika menyebut syurga dan neraka tidak menangis, tetapi kau menangis kerana kubur?" Jawabnya: "Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda: "Alqabru awwalu manazilil akhirah, fa in naja minhu fama ba'dahu aisaru minhu, wa in lam yanju minhu fama ba'dahu asyaddu minhu." (Yang bermaksud)"Kubur itu pertama tempat yang menuju akhirat, maka bila selamat dalam kubur, maka yang dibelakangnya lebih ringan, dan jika tidak selamat dalam kubur maka yang dibelakangnya lebih berat daripadanya."

Abdul-Hamid bin Mahmud Almughuli berkata: "Ketika aku duduk bersama Ibn Abbas r.a., tiba-tiba datang kepadanya beberapa orang dan berkata: "Kami rombongan haji dan bersama kami ini ada seorang yang ketika sampai didaerah Dzatishshahifah, tiba-tiba ia mati, maka kami siapkan segala keperluannya, dan ketika menggali kubur untuknya, tiba-tiba ada ular sebesar lahad, maka kami tinggalkan dan menggali lain tempat juga ada ular, maka kami biarkan dan kami menggali lain tempat juga kami dapatkan ular, maka kami biarkan dan kini kami bertanya kepadamu, bagaimanakah harus kami perbuat tehadap mayat itu?" Jawab Ibn Abbas r.a.: "Itu dari amal perbuatannya sendiri, lebih baik kamu kubur sajan demi Allah andaikan kamu galikan bumi ini semua niscaya akan kamu dapat ular didalamnya." Maka mereka kembali dan menguburkan mayat itu didalam salah satu kubur yang sudah digali itu dan ketika mereka kembali kedaerahnya mereka pergi kekeluarganya untuk mengembalikan barang-barangnya sambil bertanya kepada isterinya apakah amal perbuatan yang dilakukan oelh suaminya? Jawab isterinya: "Dia biasa menjual gandum dalam karung, lalu dia mengambil sekadar untuk makanannya sehari, dan menaruh tangkai-tangkai gandum itu kedalam karung seberat apa yang diambilnya itu."

Abul-Laits berkata: "Berita ini menunjukkan bahawa kianat itu salah satu sebab siksaan kubur dan apa yang mereka lihat itu sebagai peringatan jangan sampai kianat."

Ada keterangan bahawa bumi ini tiap hari berseru sampai lima kali dengan berkata:

  • Hai anak Adam, anda berjalan diatas punggungku dan kembalimu didalam perutku.

  • Hai anak Adam, anda makan berbagai macam diatas punggungku dan anda akan dimakan ulat didalam perutku.

  • Hai anak Adam, anda tertawa diatas punggungku, dan akan menangis didalam perutku.

  • Hai anak Adam, anda bergembira diatas punggungku dan akan berduka didalam perutku.

  • Hai anak Adam, anda berbuat dosa diatas punggungku, maka akan tersiksa didalam perutku.

Amr bin Dinar berkata: "Ada seorang penduduk kota Madinah yang mempunyai saudara perempuan dihujung kota, maka sakitlah saudaranya itu kemudian mati, maka setelah diselesaikan persiapannya dibawa kekubur, kemudian setelah selesai menguburkan dan kembali pulang kerumah, ia teringat pada kantongan yang dibawa dan tertinggal dalam kubur, maka ia minta bantuan orang untuk menggali kubur itu kembali, dan sesudah digali kubur itu maka bertemulah dia akan kantongannya itu, ia berkata kepada orang yang membantunya itu: "Tolong aku ketepi sebentar sebab aku ingin mengetahui bagaimana keadaan saudaraku ini." Maka dibuka sedikit lahadnya, tiba-tiba dilihatnya kubur itu menyala api, maka segera ia meratakan kubur itu dan kembali kepada ibunya lalu bertanya: "Bagaimanakah kelakuan saudaraku dahulu itu?" Ibunya berkata: "Mengapa kau menanyakan kelakuan saudaramu, padahal ia telah mati?" Anaknya tetap meminta supaya diberitahu tentang amal perbuatan saudaranya itu, lalu diberitahu bahawa saudaranya itu biasanya mengakhirkan sembahyang dari waktunya, juga cuai dalam kesucian dan diwaktu malam sering mengintai rumah-rumah tetangga untuk mendengar perbualan mereka lalu disampaikan kepada orang lain sehingga mengadu domba antara mereka, dan itulah sebabnya siksa kubur. Kerana itu siapa yang ingin selamat dari siksaan kubur haruslah menjauhkan diri dari sifat namimah (adu domba diantara tetangga dan orang lain) supaya selamat dari siksaan kubur dan mudah baginya menjawab pertanyaan Malaikat Munkar Nakier.

Alabarra' bin Aazib r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Seorang mukmin jika ditanya dalam kubur, maka ia langsung membaca Asyhadu an laa ilaha illallah wa anna Muhammad abduhu warasuluhu, maka itulah yang tersebut dalam firman Allah: Yutsabbitullahul ladzina aamanu bil qaulits tsabiti filhayatiddun ya wafil akhirah (Allah menetapkan orang-orang yang beriman dengan khalimah yang teguh dimana hidup didunia dan diakhirat (yakni khalimah laa ilaha illallah, Muhammad Rasullullah).

Dan ketetapan itu terjadi dalam tiga masa iaitu:

  • Ketika melihat Malakulmaut

  • Ketika menghadapi pertanyaan Mungkar Nakier

  • Ketika menghadapi hisab dihari kiamat

Dan ketetapan ketika melihat Malaikulmaut dalam tiga hal iaitu:

  • Terpelihara dari kekafiran, dan mendapat taufiq dan istiqamah dalam tauhid sehingga keluar rohnya dalam Islam

  • Diberi selamat oleh Malaikat bahawa ia mendapat rahmat

  • Melihat tempatnya disyurga sehingga kubur menjadi salah satu kebun syurga.

Adapun ketetapan ketika hisab juga dalam tiga perkara iaitu:

  • Allah s.wt. memberinya ilham sehingga dapat menjawab segala pertanyaan dengan benar

  • Mudah dan ringan hisabnya

  • Diampunkan segala dosanya

Ada juga yang mengatakan bahawa ketetapan itu dalam empat masa iaitu:

  • Ketika mati

  • Didalam kubur sehingga dapat menjawab pertanyaan tanpa gentar atau takut

  • Ketika hisab

  • Ketika berjalan diatas sirat sehingga berjalan bagaikan kecepatan kilat

Jika ditanya tentang soal kubur bagaimanakah bentuknya, maka ulama telah membicarakannya dalam berbagai pendapat. Sebahagiannya berkata pertanyaan itu hanya kepada roh tanpa jasad dan disaat itu roh masuk kedalam jasad hanya sampai didada. Ada pendapat berkata bahawa rohnyanya diantara jasad dan kafan dan sebaiknya seorang mempercayai adanya pertanyaan dalam kubur tanpa menanyakan dan sibuk dengan caranya. Dan kita sendiri akan mengetahui bila sampai disana, maka bila ada orang menolak adanya soal Mungkar Nakier dalam kubur, maka penolakannya dari dua jalan iaitu:

  • Mereka berkata: "Ia tidak mungkin menurut perkiraan akal, sebab menyalahi kebiasaan tabiat alam."

  • atau mereka berkata: "Tidak ada dalil yang menguatkan."

Pendapat pertama bahawa ia tidak mungkin dalam akal kerana menyalahi kebiasaa tabiat alam. Pendapat ini bererti menidakkan kenabian dan mukjizat, sebab para Nabi itu semuanya dari manusia biasa dan tabiatnya mereka sama, tetapi mereka telah dapat bertemu dengan Malaikat dan menerima wahyu, bahkan laut telah terbelah untuk Nabi Musa a.s., demikian pula tongkatnya menjadi ular, semua kejadian itu menyalahi tabiat alam, maka orang yang menolak semua itu bererti keluar dari Islam. Jika ia berkata: "Tidak ada dalil.", maka hadis-hadis yang diterangkan sudah cukup untuk menjadi alasan bagi orang yang akan mahu terima.

Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: "Wa man a'rodho an dzikri fa inna lahu ma'i syatan dhanka wanah syuruhu yaumal qiyaamati a'ma. (Yang bermaksud) "Dan siapa yang mengabaikan peringatanKu (ajaranKu) maka ia akan merasakan kehidupan yang sukar (kehidupan sukar ini ketika menghadapi pertanyaan dalam kubur)."

Demikian pula ayat: "Yu tsabbitulladzina aamanu bil qoulaits tsabiti filhayatiddunia wafil akhirati. (Yang bermaksud) "Allah akan menetapkan hati orang-orang mukmin dengan khalimah yang teguh didunia dan diakhirat."

Abu-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Saad bin Almusayyab dari Umar r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Jika seorang mukmin telah masuk kedalam kubur, maka didatangi oleh dua Malaikat yang menguji dalam kubur, lalu mendudukkannya dan menanyainya, sedang ia mendengar suara derap sandal sepatu mereka ketika kembali, lalu ditanya oleh kedua Malaikat itu: Siapa Tuhammu, dan apakah agamamu, dan siapa Nabimu, lalu dijawab: Allah tuhanku, dan agamaku Islam dan Nabiku Nabi Muhammad s.a.w. Lalu Malaikat itu berkata: Allah yang menetapkan kau dalam khalimah itu, tidurlah dengan tenang hati. Itulah ertinya Allah menetapkan mereka dalam khalimah hak. Adapun orang kafir zalim maka Allah menyesatkan mereka dengan tidak memberi petunjuk taufiq pada mereka, sehingga ketika ditanya oleh Malaikat: Siapa Tuhanmu, apa agamamu dan siapa Nabimu, maka jawab orang kafir atau munafiq: Tidak tahu. Maka oleh Malaikat dikatakan: Tidak tahu, maka langsung dipukul sehingga jeritan suaranya terdengar semua yang dialam kecuali manusia dan jin. (Dan andaikan didengar oleh manusia pasti pingsan)

Abu Hazim dari Ibn Umar r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w bersabda kepada Umar r.a : "Bagaimanakah kau hai Umar jika didatangi oleh kedua Malikat yang akan mengujimu didalam kubur iaitu Mungkar Nakier hitam keduanya kebiru-biruan siung keduanya mengguriskan bumi, sedang rambut keudanya sampai ketanah dan suara keduanya bagaikan petir yang dahsyat, dan matanya bagaikan kilat yang menyambar?" Umar bertanya: "Ya Rasullullah, apakah ketika itu aku cukup sedar sebagaimana keadaanku sekarang ini?" Nabi Muhammad s.a.w menjawab: "Ya." Umar berkata: "jika sedemikian maka saya selesaikan keduanya dengan izin Allah s.w.t.. Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "sesungguhnya Umar seorang yang mendapat taufiq."

Abul-Laits berkata: "saya telah diberitahu oleh Abul-Qasim bin Abdurrahman bin Muhammad Asysyabadzi dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Tiada seorang yang mati melainkan ia mendengkur yang didengari oleh semua binatang kecuali manusia, dan andaikata ia mendengar pasti pingsan, dan bila dihantar kekubur, maka jika solih (baik) berkata: "Segerakanlah aku, andaikan kamu mengetahui apa yang didepanku daripada kebaikan, nescaya kamu akan menyegerakan aku. Dan bila ia tidak baik maka berkata: "Jangan keburu, andaikata kamu mengtahui apa yang didepan aku daripada bahaya, nescaya kamu tidak akan keburu. Kemudian jika telah ditanam dalam kubur, didatangi oleh dua Malaikat yang hitam kebiru-biruan datang dari arah kepalanya, maka ditolak oleh sembahyangnya: Tidak boleh datang dari arahku sebab adakalanya ia semalaman tidak tidur kerana takut dari saat yang seperti ini, lalu datang dari bawah kakinya, maka ditolak oleh baktinya pada kedua orang tuanya: Jangan datang dari arahku, kerana ia biasa berjalan tegak kerana ia takut dari saat seperti ini, lalu datang dari arah kanannya, maka ditolak oleh sedekahnya: Tidak boleh datang dari arahku, kerana ia pernah sedekah kerana ia takut dari saat seperti ini, lalu ia datang dari kirinya maka ditolak oleh puasanya: Jangan datang dari arahku, kerana ia biasa lapar dan haus kerana takut saat seperti ini, lalu ia dibangunkan bagaikan dibangunkan dari tidur, lalu ia bertanya: Bagaimana pendapatmu tentang orang yang membawa ajaran kepadamu itu? Ia tanya: Siapakah itu? Dijawab: Muhammad s.a.w? Maka dijawab: Saya bersaksikan bahawa ia utusan Allah. Lalu berkata kedua Malaikat: Engkau hidup sebagai seorang mukmin, dan mati juga mukmin. Lalu diluaskan kuburnya, dan dibukakan baginya segala kehormatan yang dikurniakan Allah kepadanya. Semoga Allah memberi kita taufiq dan dipelihara serta dihindarkan dari hawa nafsu yang menyesatkan, dan menyelamatkan kami dari siksa kubur kerana Nabi Muhammad s.a.w juga berlindung kepada Allah dari siksa kubur."

A'isyah r.a. berkata: "Saya dahulunya tidak mengetahui adanya siksa kubur sehingga datang kepadaku seorang wanita Yyahudi, minta-minta dan sesudah saya beri ia berkata: "Semoga Allah melindungi kamu dari siksa kubur. Maka saya kira keterangannya itu termasuk tipuan kaum Yahudi, lalu saya ceritakan kepada Nabi Muhammad s.a.w maka Nabi Muhammad s.a.w memberitahu kepadaku bahawa siksa kubur itu hak benar, maka seharusnya seorang muslim berlindung kepada Allah s.w.t. dari siksa kubur, dan bersiap sedia untuk menghadapi kubur dengan amal yang soleh, sebab selama ia masih hidup maka Allah s.w.t. telah memudahkan baginya segala amal soleh. Sebaliknya bila ia telah masuk kedalam kubur, maka ia akan ingin kalau dapat diizinkan, sehingga ia sangat menyesal semata-mata, kerana itu seorang yang berakal harus berfikir dalam hal orang-orang yang telah mati, kerana orang-orang yang telah mati itu, mereka sangat ingin kalau dapat akan sembahyang dua rakaat, berzikir dengan tasbih, tahmid dan tahlil, sebagaimana ketika didunia, tetapi tidak diizinkan, lalu mereka hairan pada orang-orang yang masih hidup menghambur-hamburkan waktu dalam permainan dan kelalaian semata-mata. Saudaraku jagalah dan siap-siapkan harimu, sebab ia sebagai pokok kekayaanmu, maka mudah bagimu mendapatkan atau mencari untung laba, sebab kini dagangan akhirat agak sepi dan tidak laku, kerana itu rajin-rajinlah kau mengumpulkan sebanyak mungkin daripadanya, sebab akan tiba masa dagangan itu sangat berharga sebab pada saat itu ia berharga, maka kau tidak akan dapat mencari atau mencapainya. Kami mohon semoga Allah s.w.t. memberi taufiq untuk bersiap-siap menghadapi saat keperluan dan jangan sampai menjadikan kami dari golongan yang menyesal sehingga ingin kembali kedunia tetapi tidak diizinkan, juga semoga Allah s.w.t. memudahkan atas kami sakaratulmaut, dan kesukaran kubur, demikian pula pada semua kaum muslimin dan muslimat.

Saturday, December 26, 2009

Kisah Malaikat Bernama Harut dan Marut

Harut dan Marut adalah 2 orang Malaikat yang di sebut dalam Al-Qur.an surat Al Baqarah ayat 102 :

Dan mereka mengikuti apa [76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan [77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).

Mereka engajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat [78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut
Dari ayat Al_Qur'an itu muncul beberapa penafsiran tentang Harut dan Marut adalah 2 orang Malaikat yang turun ke Bumi.

DIRIWAYATKAN daripada Nafi’ dari Abdullah Umar, bahwa Rasulullah s.a.w pernah bersabda “Ketika Nabi Adam a.s diturunkan Allah ke bumi, maka berkatalah malaikat, “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?”

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui.”

Malaikat berkata, “Kami adalah orang lebih patuh kepada Engkau berbanding anak keturunan Adam.”

Kepada malaikat, Allah berfirman: “Panggillah ke mari dua malaikat. Aku akan turunkan mereka ke bumi hingga kamu dapat melihat apa yang dilakukan kedua-dua malaikat itu!”

Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas, bahawa Allah berfirman kepada malaikat, “Pilihlah tiga yang termulia antara kamu!”

Malaikat menjawab, “Tuhanku, biarlah Harut dan Marut saja yangmelakukannya!”

Harut dan Marut pun diturunkan ke bumi dan dengan diberi sifat-sifat yang sama seperti yang melekat sama manusia ( Nafsu syahwat dll ), lalu Allah mencipta seorang wanita daripada bunga (Zahrah) yang amat cantik. Zahrah pun mendatangi kedua-dua malaikat itu untuk menggodanya.

Kedua-dua malaikat itu tertarik dengan kecantikan Zahrah hingga timbullah keinginan terhadapnya.

Zahrah berkata, “Tidak, demi Allah, jika kamu mahu mengucapkan kalimah musyrik ini!”

Kedua-dua malaikat itu menjawab, “Tidak, demi Allah, sedikit pun kami tidak mahu mempersekutukan Allah untuk selama-lamanya!”

Zahrah meninggalkan mereka berdua. Beberapa saat kemudian, dia kembali lagi membawa anak kecil.

Apabila mendekati kedua-dua malaikat itu Zahrah berkata, “Tidak demi Allah, sebelum kamu bersedia membunuh anak kecil ini!”

Kedua-dua malaikat itu menjawab, “Tidak, demi Allah selamanya aku tidak akan membunuhnya!”

Zahrah meninggalkan mereka dan datang semula sambil membawa segelas arak. Setelah menyapa malaikat, Zahrah berkata,

“Tidak, demi Allah, sebelum kamu berdua minum arak ini!”

Akhirnya kedua-dua malaikat itu meminumnya hingga mabuk dan kemudian mereka berzina dengan Zahrah sebelum membunuh anak kecil itu.

Ketika kedua malaikat itu sadar, Zahrah berkata, “Demi Allah, ketika kamu dalam keadaan mabuk tadi, kamu sudah melakukan semua yang sudah kamu tolak sebelum ini.”

Akhirnya Harut-Marut diperintah untuk memilih antara siksa didunia atau di akhirat. Kedua-duanya memilih siksaan di dunia.

Diriwayatkan Makhul daripada Mu’adz, ketika kedua-dua malaikat itu sadar, maka datanglah dari sisi Allah malaikat Jibril kepada mereka.

Pada saat Jibril datang, kedua-duanya menangis dan Jibril ikut menangis sambil berkata, “Cobaan apakah yang membuat kamu hanyut seperti ini?”

Mendengar ucapan Jibril itu, tangisan kedua-duanya menjadi semakin kuat. Jibril berkata, “Sesungguhnya Tuhan kamu sudah memerintahkan kepada kamu untuk memilih antara azab di dunia atau azab di akhirat.”

Maka mereka tahu bahwa dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi dan sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua hamba-Nya. Kedua-dua malaikat itu akhirnya memilih hukuman di dunia dan menyerahkan nasibnya kepada kehendak Allah.

Riwayat lain : Rabi’ Anas berkata, ketika Harut dan Marut sadar daripada mabuk, mereka akhirnya menyedari kesalahan yang sudah dilakukan ketika mabuk. Mereka menyesal.

Mereka ingin naik kembali ke langit, tetapi mereka sama sekali tidak mampu melakukannya, malah tidak mendapat izin. Mereka menangis dan meratapi nasib mereka.

Kedua-dua malaikat itu lalu mendatangi Nabi Idris sambil berkata, “Aku mohon supaya engkau mendoakan aku kepada Allah kerana sesungguhnya di langit aku sudah mendengar bahawa engkau disebut-sebut sebagai orang yang soleh.”

Nabi Idris mendoakan kedua-dua malaikat itu dan doanya dikabulkan hingga akhirnya mereka diperintahkan memilih antara azab di dunia atau akhirat.

Perawi hadis itu berkata, “Harut dan Marut pada saat itu berada di wilayah Badil, Parsi. Mereka digantung di antara dua gunung pada sebuah gua bawah tanah. Setiap hari mereka diseksa hingga pagi.”

Ketika berita hukuman itu diketahui malaikat yang lain, mereka mengepak-ngepakkan sayap sambil berdoa di Baitullah:

“Ya Allah, ampunilah anak cucu Adam kerana kami kagum bagaimana mereka dapat menyembah dan taat kepada Allah, padahal mereka dikelilingi beberapa kesenangan dan kelazatan.”

Al-Kalabi berkata, “Seterusnya malaikat pun sentiasa memohon ampun kepada anak cucu Adam. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah, “Dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohon ampun bagi orang-orang yang ada di bumi.”

Wallahhualam.

Tuesday, November 03, 2009

AKIDAH


1. MAKSUD IMAN

- DARI SEGI BAHASA :

§ percaya

- DARI SEGI ISTILAH :

§ Membenarkan di hati, mengakui dengan lidah dan beramal dengan anggota



2. KEPENTINGAN IMAN DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM

- membentuk insan muslim sejati

- supaya istiqamah dalam ibadat

- melahirkan generasi berakhlak mulia



3. PERKARA-PERKARA YANG BOLEH MEMBATALKAN IMAN

· SYIRIK

· MAKSUD : menyekutukan Allah dengan sesuatu pada zat, sifat dan af'alnya

· JENIS-JENIS SYIRIK :


1. Syirik Jali

- Maksud :

§ perlakuan syirik secara terang-terangan

- Contoh :

§ menyembah patung dan berhala

§ menyembah bulan atau matahari

§ mengaku nabi Isa sebagai anak tuhan

- Akibat :

§ rosak akidah, berdosa besar, mendapat azab di akhirat


2. Syirik Khafi

- Maksud :

§ tidak meletakkan Allah sebagai yang mutlak dalam niat terutama dalam ibadat

- Contoh :

§ riak (menunjuk-nunjuk kehebatan diri),

§ ujub (mengagumi diri sendiri),

§ takbur (membangga diri)

- Akibat :

§ dibenci masyarakat, hilang kawan dan sahabat

§ sukar menerima pandangan orang lain



3. Perbuatan mensyirikkan Allah haram kerana :

· Ia membatalkan iman seseorang

· Orang yang mengamalkan perbuatan itu dengan sendirinya menafikan kekuasaan Allah

· Masyarakat menjadi bimbang dan seterusnya terikut-ikut terhadap pantang larang kesan dari kepercayaan syirik

· Mencemarkan kesucian agama Islam



4. Cara mengelak perbuatan syirik

· Masyarakat Islam hendaklah didedahkan dengan ajaran Islam secara meluas

· Tanamkan keyakinan yang teguh terhadap kekuasaan Allah bermula dari kanak-kanak lagi

· Masyarakat Islam hendaklah didedahkan dengan pengetahuan bahaya syirik



5. Kesan syirik

· Membatalkan iman

· Hilang keyakinan terhadap kekuasaan Allah

· Dimurkai Allah



· KUFUR

· MAKSUD :

- tidak percaya kepada Allah serta mengingkari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad S.A.W



· JENIS-JENIS KUFUR :

1. Kufur Hakikat :

- Maksud :

§ ingkar atau menafikan rukun iman dan menolak syariat yang dibawa oleh Rasulullah

- Contoh :

§ tidak mengakui balasan diakhirat

§ menolak hukum yang terdapat dalam al-quran

§ menyatakan solat fardhu merugikan masa

§ menyatakan berpuasa ramadhan melemahkan ekonomi


2. Kufur Nikmat :

- Maksud :

§ mengingkari Allah sebagai pemberi nikmat kepada manusia dan makhluk ciptaan

- Contoh :

§ menggunakan nikmat kejalan maksiat

§ enggan mengeluarkan zakat / sedekah

§ boros membelanjakan harta



· FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN SESORANG ITU BOLEH MENJADI KUFUR :

§ pegangan agama yang lemah menyebabkan seseorang tidak dapat membezakan antara perbuatan yang membawa dosa atau pahala

§ terpengaruh dengan hawa nafsu yang inginkan keseronokan dan kebebasan

§ kesempitan hidup menyebabkan seseorang sanggup melakukan kufur untuk memenuhi keperluan hidup



· KESAN PERBUATAN KUFUR ….

· RIDDAH

· MAKSUD :

- berpaling atau keluar daripada agama islam



· SESORANG ITU BOLEH DIANGGAP MURTAD MELALUI 3 CARA

- Iktikad, apabila berniat hendak meninggalkan agama islam

- Perkataan, apabila mengisytiharkan dirinya keluar daripada agama islam

- Perbuatan, menganut agama selain daripada agama islam



· SEBAB / FAKTOR YANG MENYEBABKAN RIDDAH

- lemah pegangan agama

- jahil tentang akidah dan hukum-hukum islam

- terpengaruh dengan tawaran kebendaan



· AKIBAT BURUK SETELAH MURTAD

- hubungan suami isteri terfasakh

- haram menerima harta pusaka daripada waris beragama islam

- haram dikebumikan diperkuburan Islam

- menjadi penghuni neraka selama-selamanya



· CARA BERHADAPAN DENGAN ORANG MURTAD

- memberi nasihat supaya dia bertaubat dan kembali kepada agama Islam

- memberi perlindungan atau bantuan sekiranya dia golongan muallaf

- pemerintah hendaklah menguatkuasakan hukum



· TINDAKAN YANG PERLU DILAKSANAKAN KEPADA ORANG MURTAD

- menasihati dan memintanya bertaubat ( sebanyak 3 kali ) supaya kembali kepada Islam

- sekiranya masih berdegil, ia wajib dibunuh



· HIKMAH ISLAM MENGANJURKAN HUKUMAN BUNUH TERHADAP ORANG MURTAD

- memberi amaran bahawa agama islam tidak boleh dipermain-mainkan

- mengelakkan perbuatan riddah yang mencemar kesucian agama islam

- menghindarkan masyarakat islam daripada berpecah belah dan huru-hara



· LANGKAH MENGELAKKAN DIRI DARIPADA MURTAD

- berpegang teguh dengan ajaran islam

- menghindari daripada sebarang perbuatan, fahaman dan percakapan yang boleh membawa kepada riddah

- mendalami ilmu-ilmu agama



· LANGKAH UNTUK MENGATASI MASALAH MURTAD

- memberi pendidikan agama dengan sebaiknya kepada setiap orang Islam

- memberi kefahaman kepada orang Islam tentang akibat buruk perbuatan murtad

- mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang murtad



· KESAN PERBUATAN MURTAD …


· KHURAFAT

· MAKSUD

- Kepercayaan dan perbuatan karut yang dianggap mempunyai hubungan dengan agama islam sedangkan pada hakikatnya bertentangan dengan konsep tauhid dan syariat



· CONTOH-CONTOH PERBUATAN KHURAFAT YANG MASIH DIAMALKAN

- mempercayai azimat yang boleh menahan sesuatu bahaya kepada seseorang

- mempercayai binatang seperti burung boleh membawa tuah atau sial

- membuang ancak bagi menghalau hantu

- mengunjungi kubur yang dianggap keramat



· FAKTOR PERBUATAN KHURAFAT MASIH LAGI WUJUD DIKALANGAN UMAT ISLAM

- iman yang kurang mantap kepada Allah menyebabkan sukar membezakan amalan benar dan khurafat

- terpengaruh dengan masyarakat yang bebas mengamalkan perkara khurafat

- ingin mencari jalan mudah untuk menjadi kaya dan terkenal



· CARA MENANGANI & MEMBENTERAS PERBUATAN / AKTIVITI KHURAFAT DIKALANGAN MASYARAKAT ISLAM

- menggiatkan usaha-usaha dakwah dan majlis-majlis ilmu di semua lapisan masyarakat

- mengenakan hukuman berat kepada mereka yang terlibat mempengaruhi orang ramai dengan perkara khurafat

- mengawasi tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat



· AKIBAT BURUK JIKA MEMPERCAYAI / MENGAMALKAN PERBUATAN KHURAFAT

- menyebabkan syirik dan batal iman

- membazir masa, tenaga dan harta dengan perkara sia-sia

- menyekat akal berfikir secara logik dan sistematik



· SIHIR

· MAKSUD

- ilmu yang berkaitan perbuatan secara halus melalui pertolongan makhluk ghaib, iaitu dengan bantuan syaitan atau jin bertujuan memudharatkan atau mengelirukan manusia


· CONTOH

- menggunakan jin atau syaitan melalui santau / guna-guna

- mengamalkan perubatan dengan mendekatkan diri kepada jin disertai dengan penyembelihan haiwan

- pertunjukan silap mata yang menggunakan kuasa makhluk-makhluk halus



· PUNCA BERLAKUNYA PERBUATAN SIHIR

- perasaan dendam seseorang terhadap orang lain

- iri hati dengan kelebihan atau kedudukan seseorang

- ada perasaan benci terhadap seseorang



· CARA MENANGANI PERBUATAN SIHIR

- mengambil tindakan tegas terhadap orang yang melakukan perbuatan sihir

- menerapkan ajaran islam secara menyeluruh dan mendalam kepada masyarakat

- tidak memberi sokongan atau kerjasama dengan orang yang melakukan perbuatan tersebut



· AKIBAT BURUK JIKA MENGAMALKAN SIHIR

- merosakkan akidah dan membatalkan iman

- memecah-belahkan masyarakat dan menimbulkan fitnah

- hilang pergantungan kepada Allah kerana mendapat bantuan syaitan



· HIKMAH ISLAM MENGHARAMKAN SIHIR

- supaya akidah seseorang tetap terpelihara

- supaya orang Islam dapat hidup dlam keadaan yang aman dan sejahtera

- supaya persengketaan dan permusuhan dapat terhindar



· CARA MENGELAKKAN DIRI DARIPADA TERKENA SIHIR

- membaca ayat-ayat kursi setiap kali selesai solat

- membaca surah al-Ikhlas dan sebagainya

- banyak berlindung dengan kalimah-kalimah Allah



· NIFAK

· MAKSUD

- Berpura-pura melahirkan keimanan sedangkan hati tetap kufur kepada Allah



· CIRI-CIRI ORANG MUNAFIK

- berdusta apabila bercakap

- khianat apabila diberi amanah

- bersikap melampaui batas apabila bertengkar

- selalu mungkir janji



· CARA MENGELAKKAN DIRI DARI MEMILIKI SIFAT MUNAFIK

- meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah

- bercakap benar apabila berbicara

- bersifat jujur dan amanah

- menunaikan janji



· AKIBAT BURUK JIKA MENGAMALKAN SIKAP NIFAK

- menghilangkan sikap percaya-mempercayai

- melemahkan perpaduan masyarakat

- menghancurkan kekuatan umat islam



4. CARA MENGELAKKAN TERBATALNYA IMAN

· Berpegang teguh pada ajaran Allah

· Mematuhi segala suruhan dan meninggalkan segala larangan Allah

· Menghindarkan semua perbuatan yang boleh membatalkan keinanan kepada Allah



5. KESAN BURUK SEKIRANYA IMAN TERBATAL

· Segala amal ibadat tidak diterima oleh Allah

· Amal kebaikan yang dilakukan sia-sia dan tidak mendapat apa-apa ganjaran daripada Allah

· Dilaknat dan dibenci oleh Allah

· Terputus hidayat dan rahmat daripada Allah



6. PERBANDINGAN IMAN ORANG FASIK, MUNAFIK DAN IMAN YANG SEMPURNA


ORANG FASIK


· Tidak beriman sepenuhnya kepada Allah

· Masih melakukan perbuatan yang dilarang Allah


ORANG MUNAFIK


· Keimanan mereka berpura-pura sahaja

· Menunjukkan diri mereka beriman kepada Allah, tetapi hakikatnya mereka adalah musuh Allah


ORANG YANG SEMPURNA IMAN


· Terus sujud dan memuji Allah jika dibacakan ayat-yat Allah

· Sentiasa berdoa kepada Allah dengan penuh harapan

· Sentiasa membelanjakan harta pada jalan kebaikan


from: http://www.sabah.edu.my/cwm010/akidah_1.htm

Friday, October 23, 2009

Khutbah Terakhir Nabi Muhammad S.A.W

Disampaikan Di Lembah Gunung Uranah, Gunung Arafah
Pada Tanggal 9HB Zulhijjah 10 Hijrah

Wahai manusia ,
Dengar baik baik apa yang ingin ku katakan. Aku tidak tahu adakah aku dapat bertemu dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah teliti kata kataku ini dan sampaikanlah kepada orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini…

Wahai manusia,
Sebagaimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemilik yang berhak. Jangan kamu sakiti sesiapa pun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi. Ingat bahawa sesungguhnya kamu akan menemui tuhan kamu dan Dia akan pasti akan membuat perhitungan diatas segala amalan kamu.

Wahai manusia,
Allah telah mengharam riba, oleh itu segala urusan yang melibatkan Riba dibatalkan mulai sekarang. Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesat kamu dalam perkara perkara besar, maka berjaga jagalah supaya kamu tidak mengikutnya dalam perkara perkara kecil.

Wahai manusia,
Sebagaimana kamu mempunyai hak ke atas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik, berlemah lembut terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah sama sekali tidak boleh membenarkan orang yang sukai ke dalam kamu dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia,
Dengarlah bersungguh-sunguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikan sembahyang lima kali sehari, berpuasalah di bulan ramadhan, tunaikanlah zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjalah ibadat haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu juga adalah sama, tiada seorang pun yang lebih mulia dari yang lain kecuali dengan taqwa dan beramal soleh. Ingatlah bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggung jawab di atas segala apa yang kamu kerja kan. Oleh itu awaslah agar jangan sesekali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai manusia,
Tiada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dangan betul dan fahamilah kata kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama lamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku. Hendaklah orang orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah YA ALLAH, bahawasanya telah aku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hamba Mu….

Tuesday, October 13, 2009

Kisah Seorang Pemuda yang Kedua Ibu Bapaknya Sepasang Babi

Nabi Musa AS adalah satu-satunya nabi yang diizinkan berdialog langsung dengan Allah S.W.T Setiap kali hendak bermunajat dan berdialog dengan Allah, Nabi Musa naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia berdialog dengan Allah. Nabi Musa sering bertanya dan Allah menjawab saat itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.

Suatu hari Nabi Musa bertanya kepada Allah. “Ya Allah, siapakah orang di surga kelak yang akan menjadi sahabatku?” Allah pun menjawab dengan memberitahu sebuah nama, nama kampungnya serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa benar-benar penasaran dengan orang itu. Betapa istimewanya dia, tidak dikenal tetapi kelak setingkat dengan Nabi di surga. Siapakah dia dan apakah amal-amalnya? Musa turun dari Bukit Tursina dan berjalan berhari-hari mencari orang itu ke tempat yang diberitahu Allah. Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat yang dituju.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk setempat, Musa berhasil bertemu dengan orang tersebut. Ia ternyata seorang pemuda. Setelah memberi salam, Nabi Musa dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Anehnya, pemuda itu tidak melayaninya. Dia malah masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu dituntunnya dengan baik dan rasa hormat. Nabi Musa terkejut melihatnya. “Lho, apa-apaan pemuda itu? Ia memelihara babi di rumahnya?” Kata Nabi Musa tersentak kaget dalam hatinya penuh keheranan.

Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu, babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantarkan kembali ke dalam kamar. Tidak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dituntun diantar kembali lagi ke dalam ke kamar yang sama.

Setelah selesai barulah dia melayani Nabi Musa AS. Musa bertanya heran:
“Wahai anak muda! Apa agamamu sampai berbuat seperti itu kepada babi?”
“Agamaku agama Tauhid. Aku beriman kepada Allah.” Jawab pemuda itu.
“Tapi, mengapa kamu mengurus babi bahkan sampai seperti itu? Kita tidak boleh begitu terhadap babi.” Kata Nabi Musa.

“Wahai Tuan,” kata pemuda itu, “sebenarnya kedua babi itu adalah ibu bapakku. Karena mereka melakukan dosa besar, Allah telah mengazab mereka dengan mengganti wujudnya menjadi babi. Soal dosanya itu, biarlah itu urusannya dengan Allah. Sebagai anaknya, aku tetap melaksanakan kewajibanku mengurus mereka. Hari demi hari, aku berbakti kepada kedua ibu bapakku seperti yang tuan lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menjadi babi, aku tetap melaksanakan tugasku sebagai anak. Sebagai anak, aku harus begitu kepada orang tuaku. Begitulah ceritanya!” kata pemuda itu.

“Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar dosa mereka diampuni. Aku memohon supaya Allah menukarkan wajah mereka kembali menjadi manusia yang sebenarnya, tetapi Allah masih belum mengabulkan hajatku.” Tambah pemuda itu lirih, sedih dan pilu.

Setelah selesai pemuda itu bercerita, ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS. “Wahai Musa, inilah orang yang akan menjadi sahabatmu di surga nanti sebagai buah dari baktinya yang sangat tinggi kepada kedua orang tuanya. Ibu bapaknya yang sudah buruk rupa menjadi babi pun, dia tetap berbakti. Oleh karena itu, Kami naikkan maqamnya ke derajat yang tinggi di sisi Kami.” Kata Allah SWT.

Allah meneruskan lagi memberi kabar: “Karena dia telah berada di maqam yang tinggi sebagai anak yang shaleh disisi-Ku, kini Aku kabulkan do’nya. Tempat kedua ibu bapaknya yang tadinya Aku sediakan di dalam neraka, kini telah Kupindahkan ke dalam surga.”Allahu Akbar!!

Hikmah:
Subhanallah… hormat dan bakti anak yang shaleh serta do’anya dapat menebus dosa ibu bapaknya yang harusnya masuk ke dalam neraka dipindahkan oleh Allah ke dalam surga. Rasulullah SAW pun bersabda mengingatkan kepada kita: “Ketika meninggal dunia, semua pahala anak Adam terputus kecuali tiga hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya.” Walaupun banyak sekali dosa yang mereka lakukan, kita tidak boleh memusuhi, menjauhi, melupakan dan menelantarkannya. Kewajiban kita sebagai anak adalah berbakti dengan tulus dan ikhlas serta mendo’akannya mudah-mudahan Allah SWT mengampuninya. Kisah di atas, semoga menjadi pelajaran dan teladan buat kita.

Imam Abu Hanifah Dgn Pendakwah Yahudi

Pada suatu ketika, kota Baghdad didatangi oleh seorang pendakyah Yahudi bernama Dahri. Kedatangannya mencetuskan kegemparan dikalangan umat Islam. Dahri cuba merosakkan pegangan umat Islam dengan membahaskan soal-soal yang berhubung kait denngan keTuhanan. Dicabarnya para ulama Baghdad untuk berdebat dengannya. Setiap kali cabarannya disahut, hujah-hujah Dahri tidak pernah dapat dipatahkan sehingga akhirnya tidak ada lagi ulama Baghdad dan ulama-ulama disekitarnya yang sanggup berhadapan dengannya.

Dari kejadiannya ini, tahulah Khalifah bahawa Baghdad sudah ketiadaan ulama yangbenar-benar berwibawa dan tinggi ketaqwaannya. Lalu Khalifah memerintahkan beberapa orang menteri meninjau ke daerah lain, kalau-kalau masih ada ulama yang boleh dibawa berdepan dengan Dahri. Akhirnnya wakil Khalifah menemui Imam Hammad bin Abi Sulaimann Al-Asy ari, seorang ulama yang tidak kurang juga ketokohannya. Khalifah memerintahkan supaya hari perdebatan antara Imam Hammad dan Dahri disegerakan. Dan majlis bersejarah itu mesti dibuat di Masjid Jamek di tengah-tengah kota Baghdad. Sehari sebelum pertemuan itu lagi, Masjid Jamek telah penuh sesak dengan orang ramai. Masing-masing menaruh harapan agar Imam Hammad berjaya menumbangkan Dahri kerana beliaulah satu-satunya ulama yang diharapkan.

“Subhanallah. … Subhanallah …. Walauhaulawala quwwata illa billahi aliyyil azim….!” Lidah Imam Hammad terus melafazkan kalimat mensucikan segala tohmahan yang tidak layak bagi Zat yang Maha Agung. Dia beristighfar terus. Rasanya dah tidak sanggup telinganya menadah bermacam tohmahan yang dilemparkan oleh Dahri yang biadab dan matarialis itu. Mempertikaikan KeEsaan Allah SWT buukanlah perkara kecil dalam Islam. Ini kes berat! Hatinya cukup pedih. Roh ketauhidannya bergelora. Mahu rasanya dipenngal leher si Dahri yang angkuh itu di depan ribuan mata yang turut hadir dalam majlis itu.

Keesokannya, pagi-pagi lagi muncul Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang paling rapat dan yang paling disayanginya. Namanya yang sebenar ialah Nu’ man, yang ketika itu usiannya masih lagi remaja. Bila ternampak keadaan gurunya itu, Abu Hanifah pun bertanya untuk mendapat kepastian.

Lalu Imam Hammad menceritakan keadaan yang sebenar. Dalam pada itu teringat Hammad akan mimpinya malam tadi, lalu dikhabarkan kepada muridnya itu. Abu Hanifah mendengarnya dengan penuh khusyuk.

“…Aku bermimpi ada sebuah dusun yang amat luas lagi indah. Di sana kulihat ada sepohon kayu yand rendanng dan lebat buahnya.Tiba- tiba, di situ keluar seekor khinzir dari hujung sebuah kampung. Lalu habis dimakannya buah-buahan yang masak ranum dari pokok itu. Hingga ke daun dan dahan-dahannya habis ditutuh.Yang tinggal cuma batangnya sahaja.Dalam pada itu juga keluar seekor harimau daripada umbi pohon rendang tadi lalu menerkam khinzir itu dengan gigi dan kukunya yang tajam.Lalu,khinzir tadi mati disitu juga.”

Hammad termenung seketika. Kekalutan pemikiran yang telah dicetuskan Dahri, yang boleh menggugat pegangan aqidah umat ini,tidak boleh di biarkan. Mesti dihapuskan segera. Wajahnya yang tenang bagai air sungai yang mengalir jernih, masih nampak bercahaya walau di saat sebegitu genting.

Satu kelebihan Abu Hanifah ialah beliau juga dikurniakan Allah ilmu menta’bir mimpi, sebagai mana nabi Allah Yusuf. Pada pengamatannya juga, mimpi tersebut akan memberi petanda baik bahawa si Dahri pasti akan menerima padahnya nanti. Dan setelah mendapat keizinan gurunya, dia pun cuba mentafsirnya:

” Apa yang tuan lihat dalam mimpi tuan sebagai dusun yang luas lagi indah itu adalah tamsilan kepada agama Islam kita. Pokok yang berbuah lebat itu adalah tamsilan kepada sekalian ulamannya. Manakala sepohon kayu yang masih tinggal itu adalah tuan sendiri. Dan khinzir yang tiba-tiba muncul dan merosakkan pohon tersebut ialah si Dahri. Manakala harimau yang keluar lalu membunuh khinzir tadi… adalah saya…” jelas Abu Hanifah.

Beliau juga memohon izin untuk membantu gurunya berdepan dengan si Dahri. Betapa gembiranya hati Iman Hammad bila tercetusnya hasrat itu dari hati muridnya sendiri. Maka berngkatlah ilmuan budak itu bersama gurunya untuk pergi ke Masjid Jamek di mana majlis dialog akan diadakan yang dihadiri oleh orang ramai dan Khalifah. Seperti biasanya, sebelum menyampaikan dakyahnya, Dahri akan mencabar dan memperleceh- lecehkan ulama dengan bersuara lantang dari atas pentas.

“Hai Dahri, apalah yang digusarkan. Orang yang mengetahuinya pasti menjawabnya! ” Tiba-tiba suara Abu Hanifah memeranjatkan Dahri dan menyentakkan kaum Muslimin yang hadir. Dahri sendiri terkejut. Matanya memandang tajam mata Abu Hanifah.

” Siapa kamu hai anak muda? Berani sungguh menyahut cabaranku… Sedangkan ulama yang hebat-hebat, yang berserban dan berjubah labuh telah ku kalahkan…! ” Lantang suara Dahri membidas Abu Hanifah.

” Wahai Dahri,” balas Abu Hanifah,” sesungguhnya Allah tidak mengurniakan kemuliaaan dan kebesaran itu pada serban atau jubah yang labuh. Tetapi Allah mengurniakan kemuliaan kepada orang-orang yang berilmu dan bertaqwa.” Abu Hanifah lalu membacakan sebuah firman Allah SWT yang bermaksud: ” Allah telah meninggikan darjat orang beriman dan berimul antara kamu beberapa darjat.” (Al-Mujadalah : 11 ) . Geram rasanya hati Dahri mendengarnya kepetahan lidah pemuda ini berhujah. Maka berlangsunglah majlis dialog perdebatan antara Abu Hanifah dengan tokoh Ad- dahriayyah, yang terkenal dengan pemikiran materialisdan ateisnya itu,berlangsung dengan mendebarkan.

“Benarkah Allah itu wujud?,” soal Dahri memulakan majlis dialognya.

“Bahkan Allah memang wujud,” tegas Abu Hanifah.

“Kalau Allah maujud (wujud), di manakah tempatnya..? ?” Suara Dahri semakin meninggi.

“Allah tetap wujud tetapi dia tidak bertempat!” jelas Abu Hanifah.

“Hairan, kau kata Allah itu wujud, tetapi tidak bertempat pula…?” bantah Dahri sambil melemparkan senyuman sinisnya kepada hadirin.

“Ah, itu senang sahaja wahai Dahri. Cuba kau lihat pada dirimu sendiri. Bukankah pada dirimu itu ada nyawa…” Abu Hanifah mula berhujah. Orang ramai mula memerhatikan gaya ilmuan muda ini berpidato dengan penuh minat.

“Bahkan, memang aku ada nyawa, dan memang setiap makhluk yang bernafas itu ada nyawa…!” sahut Dahri.

“Tetapi adakah kau tahu di manakah letaknya nyawa atau rohmu itu…? Dikepalakah, diperutkah atau adakah dihujung tapak kakimu..?” Terserentak Dahri seketika. Orang ramai mula berbisik-bisik sesama sendiri. Setelah itu Abu Hanifah mengambil pula segelas susu lalu ditunjukkan pada Dahri, seraya berkata: ” Adakah dalam air susu ini ada terkandung lemak…?”

Pantas Dahri menjawab, “Ya, bahkan!”

Abu Hanifah bertanya lagi, “Kalau begitu dimanakah lemak itu berada…? Di bahagian atasnyakah atau dibawahkah.. .?” Sekali lagi Dahri terserentak, tidak mampu menjawab pertanyaan Abu Hanifah yang petah itu. “Untuk mencari dimanakah beradanya roh dalam jasad dan tersisip dimanakah kandungan lemak dalam air susu ini pun kita tidak upaya, masakan pula kita dapat menjangkau dimanakah beradanya Zat Allah SWT di alam maya ini? Zat yang telah mencipta dan mentadbir seluruh alam ini termasuk rohdan akal dangkal kita ini, pun ciptaan-Nya, yang tunduk dan patuh di bawah urusan tadbir kerajaan-Nya Yang Maha ! Agung…!” Suasana menjadi agak bingar.

Dahri terpaku di kerusi. Terbungkam lidahnya. Merah mukanya. Kesabarannya mula terburai. Bila keadaan agak reda, Dahri membentangkan soalan.
“Hai anak muda! Apakah yang wujud sebelum Allah. Dan apa pula yang muncul selepas Dia nanti…” Semua mata tertumpu pada Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang pintar ini.

“Wahai Dahri! Tidak ada suatu pun yang wujud sebelum Allah Taala dan tidak ada sesuatu jua yang akan muncul selepas-Nya. Allah SWT tetap Qadim dan Azali. Dialah yanng Awal dan Dialah yang Akhir”, tegas Abu Hanifah, ringkas tapi padat.

“Pelik sungguh! Mana mungkin begitu….Tuhan Wujud tanpa ada permulaan Nya? Dan mana mungkin Dia pula yang terakhir tanpa ada lagi yang selepas Nya….?” Dahri cuba berdalih dengan minda logiknya.

Dengan tersenyum Abu Hanifah menjelaskan, “Ya! Dalilnya ada pada diri kamusendiri. Cuba kau lihat pada ibu jari mu itu. Jari apakah yang kau nampak berada sebelum jari ini..?” Sambil menuding ibu jarinya ke langit.

Dan beberapa hadirin turut berbuat demikian. “Dan pada jari manis kau itu, adalagikah jari yang selepasnya.. .” Dahri membelek-belek jarinya. Tidak terfikir dia persoalan yang sekecil itu yang diambil oleh Abu Hanifah. “Jadi…! Kalaulah pada jari kita yang kecil ini pun, tidak mampu kita fikir, apatah lagi Allah SWT Zat Yang Maha Agung itu, yang tiada suatu pun yang mendahului-Nya dan tiada sesuatu yang kemudian selepas-Nya. “

Sekali lagi Dahri tercenggang. Bungkam. Namun masih tidak berputus asa untuk mematahkan hujah anak muda yang telah memalukannya di khalayak ramai. Khalifah memerhatikan sahaja gelagat Dahri dengan penuh tanda tanya. Dahri berfikir seketika, mencari jalan, mencari idea. Semacam suatu ilham baru telah menyuntik mindanya, iapun tersenyum. Hati Dahri bergelodak bagai air tengah menggelegak.

“Ini soalan yang terakhir buat mu, hai.. budak mentah!” Sengaja Dahri mengeraskan suaranya agar rasa malunya itu terperosok.

“Allah itu ada, kata mu. Ha! apakah pekerjaan Tuhan mu ketika ini ?” Soalan tersebut membuat Abu Hanifah tersenyum riang.

“Ini soalan yang sungguh menarik. Jadi kenalah dijawab dari tempat yang tinggi supaya dapat didengar oleh semua orang,” Katanya. Pemuda ideologi Ad- Dahriyyun yang sedari tadi mentalitinya dicabar terus, berjalan turun meninggalkan mimbar masjid Jamek, memberi tempat untuk Abu Hanifah:

“Wahai sekelian manusia. Ketahuilah bahawa kerja Allah ketika ini ialah menggugurkan yang bathil sebagaimana Dahri yang berada di atas mimbar, diturunkan Allah ke bawah mimbar. Dan Allah juga telah menaikkan yang hak sebagaimana aku, yang berada di sana, telah dinaikkan ke atas mimbar Masjid Jamek ini… !”

Bagai halilintar, hujah Abu Hanifah menerjah ke dua-dua pipi Dahri. Seiring dengan itu bergemalah pekikan takbir dari orang ramai. Mereka memuji-muji kewibawaan Abu Hanifah yang telah berjaya menyelamatkan maruah Islam dari lidah Dahri yang sesat lagi menyesatkan itu. Sehingga ke hari ini, nama Imam Abu Hanifah terus dikenali keserata dunia sebagai seorang Fuqaha dan salah seorang daripada Imam Mujtahid Mutlak yang empat. Kemunculan Mazhab Hanafi dalam fiqh Syar’iyyah, juga mengambil sempena nama ulama ini.

Tuesday, July 21, 2009

Taubat Seorang Peminum Arak

Pada suatu hari, Khalifah Umar Ibni Khattab berjalan-jalan di lorong-lorong dalam kota Madinah. Apabila sampai di persimpangan jalan,beliau terserempak dengan seorang pemuda yang membawa kendi. Ini menimbulkan sangkaan buruk Umar terhadap pemuda itu. Lantas Umar menyoal, “Apa yang engkau bawa itu?” Dalam keadaan ketakutan pemuda itu terketar-ketar menjawab, “Madu, wahai Umar..” Sebenarnya pemuda itu sedang membawa kendi arak.

Selepas berkata demikian, timbul perasaan insaf di hatinya untuk bertaubat dari minum arak. Dia menyesal melakukan perbuatan yang ditegah agama. Dia benar-benar berharap sambil berdoa supaya Khalifah Umar tidak memeriksa isi kendi itu. Namun Khalifah Umar tidak berpuas hati dengan jawapan yang diberikan oleh pemuda itu; lalu mengambil kendi itu untuk diperiksa.

Doa pemuda itu dikabulkan Allah. Apabila diperiksa, Baginda Umar dapati di dalamnya terdapat madu. Allah menukarkan arak menjadi madu. Dengan demikian pemuda itu terselamat dari tindakan Khalifah. Semenjak peristiwa itu, pemuda itu bertaubat dan berjanji tidak akan meminum arak lagi.